Wednesday, May 16, 2018

Tokoh Tanpa Nama (2)


Isya…

Satu masa yang menjadi pembuka cerita. Isya yang entah mengapa mengingatkanku pada alasan mengapa di sini. Isya yang… Ah, aku memang sudah terlanjur terdampar di kota ini. Terlibat dalam sebuah drama aneh tak terdefinisi. Yang alasannya tak lain adalah soal mencari.


Mencari adalah satu-satunya kata paling memotivasi. Karena bagaimanapun juga, aku merasa sudah buta belasan tahun lamanya. Lahir dan dibesarkan di satu dusun tertinggal membuatku merasa tak tahu apa-apa dan tak bisa ke mana-mana. Ditambah lagi, aku tak ditakdirkan lahir jenius seperti Habibie.
***
“Kalau kau yakin dengan keputusanmu sekolah, perjuangkan hingga tetes darah penghabisan.” ujar bapak yang sudah sejak sore bercerita ngalor-ngidul denganku. Malam itu tepat 17 Agustus saat hasil seleksi masuk PTN yang kuikuti diumumkan.

Setidaknya memang bapaklah salah satu alasanku fokus bersekolah meskipun sebenarnya ada pulusan hal yang membangkitkan lagi semangatku. Semangat yang sudah sempat tercabik-cabik yang puing-puingnya cukup lama tak kuacuhkan. Tapi sudahlah, biar kusimpan dalam memori otakku saja.

Kembali soal isya, aku tak cukup bisa mengingat detail kronologinya. Lagi-lagi mungkin karena IQ-ku yang tak jauh dari angka sembilan puluh yang akhirnya membuatku mudah lupa. Hanya beberapa penggal cerita saja yang sanggup kutemukan dalam memori. Atau aku saja yang terlalu berfokus pada dia, entahlah. Yang jelas aku masih ingat betul postur tubuhnya. Tinggi semampai meski tak cukup atletis. Kalau kukira-kira mungkin aku hanya setinggi bahunya.
***
Malam itu kami, aku dan beberapa mahasiswa baru lainnya, sudah berkumpul di lapangan terbuka. Tempat itu semacam area berkumpul mahasiswa yang terdiri dari mushola dan beberapa gedung lainnya.

“Jangan banyak bercanda!” serunya tiba-tiba tepat di muka telinga kiri. Iya, dialah kakak yang pernah kuceritakan sebelumnya.

Terlampau keras, aku refleks melompat sebisa-bisanya. Dan malang, aku jatuh tersungkur di hadapannya. Di depan kakak yang berpakaian serba hitam itu. Saking malunya tanpa sadar aku menutup muka sembari sedikit meringis memperlihatkan gigiku yang tak pernah gupis.

“Kau gila?” keras suaranya menggetarkan gendang telinga.

Aku mencoba bangkit dan kembali berlari. Aku tahu kakiku yang telanjang beberapa kali membentur paving block yang tentu saja berkali-kali lipat kerasnya. Tapi tak kuhiraukan demi harga diri. Harga diri? Kurasa bukan. Ada rasa aneh yang tak bias kujelaskan dengan logika. Aku seolah ingin terlihat keren di mata si kakak. Cinta? Masih terlalu picisan untuk kusebut demikian.

“Balik lagi!” samar-samar dari kejauhan ia memberi instruksi.

Aku dan beberapa teman seperjuangan mengerahkan segenap tenaga yang tersisa karena semangat kami sudah hampir habis sama sekali. Aku coba mengingat-ingat menu apa yang kusantap selepas magrib tadi yang tak lain adalah beberapa bungkus nasi kucing dan sate jeroan. Kalau kuhitung-hitung, aku mengkonsumsi tidak lebih dari satu ons jeroan dengan 27 kalori dan dan 5 kepal nasi yang mungkin hanya mengandung 300-an kalori. Memangnya tidak cukup? batinku mengutuk diri.

Ayunan kaki terseok-seok mulai berpaju lagi setelah membalik garis finish. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Kini, hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di hadapannya. Remang-remam kuterawang wajahnya yang seram. Sepersekian detik kudapati sorot matanya. Tak dapat kupungkiri sama sekali, ada binar kelembutan di sana. Binar yang untuk kesekian kali berhasil memicu jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.


Bersambung…






Tuesday, February 27, 2018

Tokoh Tanpa Nama (1)




Aku tersenyum membuka album foto lama. Gadis berwajah bulat dengan perawakan mungil tergambar di atas kertas premium matte paper berukuran 10 x 15 cm. Ia berdiri di tengah hamparan luas gelora olahraga universitas. Mengenakan topi yang senada dengan warna jas, gadis itu tampak sumringah memandang kamera yang ukurannya 2 mega pixel. Ah tidak, mungkin 4 atau bahkan 5.

Area gelora olahraga itu hampir seluruhnya berwarna menyala serupa kunyit tua. Di sana, Nampak seorang laki-laki berdiri di atas panggung kecil lengkap dengan toak di tangannya. Kalau tidak salah ia preiden BEM yang tengah berorasi.

”Cie-cie, sedang memandang foto siapa nih?” tanya Sinta yang diam-diam menyelinap ke kamarku.

“Bukan siapa-siapa.” Jawabku seadanya.

Sinta adalah teman satu kosan yang kukenal sejak masa orientasi mahasiswa baru. Berangkat dari satu kabupaten yang sama membuat kami seolah sudah dekat sejak lama. Ditambah lagi, entah kebetulan macam apa, kami disatukan dalam kelompok kegiatan pengenalan yang diadakan BEM kampusku itu.

Penjajahan, kata paling popular di kalangan mayoritas mahasiswa menggambarkan kegitan berlabel “wajib” itu. Mengapa? Diharuskan berangkat sebelum subuh dengan seabrak syarat dan barang bawaan sudah pasti sangat mengesalkan. Bukan hanya harus ke sana ke mari mencari perlengkapan, para mahasiswa baru seperti kami dipusingkan dengan teka-teki yang menguras energi. Terlebih untuk mahasiswa pendatang macam aku dan Sinta ini.

Tapi aku tetaplah aku. Aku selalu tak suka rata-rata. Sama halnya dengan kasus ini, saat rata-rata temanku menganggap kegiatan ini sebagai penyiksaan, aku  tetap menganggapnya sebagai suatu keasyikan.Aku tak peduli pada kakak senior yang berteriang dengan mata melotot-lotot di depan muka. Toh, semuanya pasti sandiwara. Kisah penjajahan itu hanya skenario yang tak lebih dari sutradara, inti cerita, latar, dan tokoh-tokohnya.

Bicara soal tokoh-tokohnya, aku ingat betul bahwa sandiwara mengasyikan itu tak lain diperankan oleh kakak tingkatku. Berasal dari dua belas fakultas dengan berbagai macam disiplin ilmu membuat setiap tokoh menampilkan karakteristik yang berbeda. Dan seperti kubilang sebelumnya, aku yang tak suka rata-rata tertarik dengan satu karakter yang tak biasa. Tokoh unik itu adalah dia, seorang kakak yang menarik perhatianku pada suatu hari selepas isya.

Bersambung...:))



Thursday, February 15, 2018

(Mungkin) Cinta Pertama


Pagi itu langit cerah. Angin berhembus lembut, beberapa gumpalan awan putih berarak mengikuti arah tiupannya. Mentari bersinar terang, menembus daun-daun kelapa yang sedikit bergoyang. Sinar yang memancarkan vitamin D itu menghangatkan tubuhku. Aku dan kawan-kawanku. Kami telah siap, berdiri dengan kaos merah putih dan sedikit garis biru yang memisahkannya. Garis itu menyayat miring tepat didadaku.

            Kami berbaris empat bajar di halaman sekolah. Bangunan sekolah ini sudah cukup tua. Memang karena umurnya yang jauh melampauhi umur kami. Mungkin salah satu orang tua dari kami pun dulu ada yang bersekolah di sini. Meskipun sudah direnovasi beberapa kali, namun kesan ancient tetap kental melekat pada dinding-dindingnya.

            Ini adalah  kamis pertama sejak aku masuk sebagai murid kelas empat. Tepatnya sejak bapak mengambil raporku pada hari Sabtu, dua minggu yang lalu.
Berapa, Pak?” tanyaku  pada bapak.
 Kuraih rapor warna merah dengan benang putih di tengahnya. Itu bukanlah desain yang disengaja, melainkan perbaikan kerusakan akibat jatuh ke selokan tahun lalu.

Sama” jawab bapak singat. 
Itulah jawaban yang selalu kudengar setiap kali penerimaan rapor. Kadang aku bertanya-tanya, "Tidak berharga kah  ranking itu?" Kadang juga aku berharap ada hadiah dari sekolah seperti cerita pendek " Ranking Satu" di buku Pintar Membaca-ku. Dan nihil.

Barang kali, baik orang tua ataupun guruku sedang menanamkan nilai yang sama. Bahwa pencapaian tak identik dengan minta imbalan. Tapi bagaimana soal apresiasi? Ah, toh dulu aku tak cukup mengerti.

            Kami telah berdiri sekitar lima belas menit sebelum pak Hardi, guru olahragaku datang.  Ia berdiri di hadapan kami. Masih dengan kaos dan trening biru serta peluit yang dikalungkan di lehernya. Tak lupa topi hitam yang menutupi kepala guru asli Wonogiri itu. Kumis yang cukup tembal mencerminakan jiwanya yang keras. Tetapi siapa sangka di balik wajahnya yang terkesan seram itu, ada jiwa humor yang selalu membuat kami rindu.

“Nanti mutar ke selatan lewat kuburan, terus kembali dari utara. Dan ojo celometan” katanya.
“Iya, Pak guru” jawab kami serempak. Hal itu terkesan seperti anak TK yang memberi salam sebelum pulang. Namun itulah yang diajarkan tiap guru pada kami. Menjawab dengan nada pelan yang diucapkan bersama-sama. Bukankan itu jenis penghormatan juga?

Kamu pakai kaos dalem kan? Buka aja bajumu!” seru pak Hardi pada anak laki-laki di barisan paling barat. Ia murid baru. Ini adalah hari pertamanya. Tidak mengherankan jika ia tak tahu kalau hari ini jadwal Penjaskes. Dan alhasil ia pun tidak membawa kaos olahraga.

            Kami berlari kecil dalam barisan yang rapi, sama seperti intruksi pak Hardi. Berlari dengan telanjang kaki. Jalan yang berkerikil tajam membuat lari kami kadang terhenti. Namun aku, dengan segera aku kembali berlari setiap kali anak laki-laki di sampingku memulainya. Bagaimana tidak? Rasanya aku tak ingin melewatkan sedikit saja geraknya. Mataku terus terpaku pada sosok berkaos dalam putih dengan rambut yang terbang-jatuh beirama.I fell in love at the first sight.

            Bahkan ketika hari telah berganti aku tetap suka mangawasinya. Mencuri pandang setiap saat ia duduk menghadap tembok kelasku. Aku suka pada julukan “ ibu Megawati dan bapak SBY” yang diberikan teman-temanku pada kami. Bukan karena pasangan kekasih, tepatnya karena aku dipilih sebagai ketua kelas sedangkan dia adalah wakilku.

            Aku suka dengan semua yang ada padanya. Aku suka sepeda oranye- hitam miliknya. Betapa ia gagah bak seorang pangeran setiap kali menunggang sepeda itu. Juga, aku suka pada tasnya yang berwarna serupa. Pernah suatu siang ketika ruang kelasku gaduh, seorang teman melempar tas itu. Sialnya, tas itu malah jatuh tepat di pangkuanku. Hal yang biasa memang, tetapi betapa kencangnya detak jantungku ketika ia berjalan mendekatiku, meminta tas dipangkuanku itu.
            Maaf ya, yang nglempar Feri” katanya pelan. Itulah pertama kalinya ia bicara padaku  Tapi Aku hanya diam seribu bahasa. Lidahku kaku. Beku hingga pada suhu minus derajad. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya merasakan sakit yang teramat di dadaku. Detak jantungku begitu menggila.
***
            Mengagumi dari jauh, begitu caraku menyukainya. Mungkin itu juga yang membuatku tak pernah sekalipun berbincang dengannya. Aku hanya selalu ingin melihatnya bersepeda di depan rumahku setiap pagi. Mendengar suaranya memimpin doa setiap kelas akan dimulai. Aku hanya ingin terus memandang tas oranye-hitam dan rambut yang selalu bergoyang ketika ia berjalan.

            Mungkin ini first loveku. Tepatnya cinta monyet pertamaku. Ini bukan tentang bagaima manisnya cinta pertama dalam dunia dewasa. Tetapi hanya tentang lucunya moments ketika pertama kalinya aku menyukai si Adam. Ya, dialah lelaki berkaos dalam putih yang membuatku selalu terpesona. Sosok yang selalu membuatku berhenti  bermain tali,  diam ketika pandangannya menghambur ke arahku.
           
***
            Dering handhone menggetarkan lenganku. “Rian” begitu nama kontak muncul bersamaan dengan gampar amplop di layarnya. Dialah laki-laki berkaos dalam putih itu. Sudah sekitar dua minggu lalu ia menghubungiku setelah sekian lama hilang. Pasalnya, sejak lulus dari sekolah dasar, atau tepatnya sekolah menengah kami benar-benar lost contact. Mungkin karena jarak sekolah kami yang terpaut puluhan kilo meter, dan juga aku yang harus rela tinggal di kos-kosan. Namun dua minggu lalu ia menelfonku. Mungkin itulah pertamakalinya kami berbincang.

            “Kamu punya pacar?” tanyanya tiba-tiba di sela perbincangan kami.
            Belum” jawabku dengan sedikit terkejut. Kini ia berbeda dari anak lai-laki yang kukenal dulu. Suaranya berubah menjadi lebih besar, dan gaya bicaranya terkesan lebih berani. Barang kali ia sudah biasa merayu wanita dan meminta untuk jadi pacarnya. Pikirku.

            Boleh aku mengisi hatimu?” katanya lagi.
            Maaf, aku masih mau mengistirahatkannya” jawabku kemudian. Entah apa yang ada dalam otakku. Bukankah seharusnya aku bahagia dengan cinta pertama yang kini di depan mata. Tetapi justeru aku malah berbalik arah. Mungkin aku hanya menyukai sosok itu pada sepuluh tahun lalu. Laki-laki berkaos dalam putih yang selalu membuatku enggan dengan hari Minggu.
           
                                                             Saturday 10th January 2015
           
           


Tuesday, January 30, 2018

Gemuruh



Sambungan telepon tiba-tiba terputus.
Barangkali signal di handphone-ku yang tidak terlalu bagus. Atau operatornya yang lagi gangguan. Atau jangan-jangan.... hatiku tiba-tiba gelisah. Ku coba menekan-nekan pad ponselku sekali lagi. Namun tetap sama.

Sedang diluar jangkauan” Jawabannya. Memang tidak biasanya orang rumah meneleponku sepagi ini. Dan parahnya, tidak banyak kata-kata yang sempat diucapkan adikku dari kejauhan sana.
Kubuka daun jendela kayu dari dalam kamarku. Bunyi tarikan selot membangunkan beberapa katak yang sedang bersemedi di bawahnya. Mungkin mereka sedang berpura-pura tidur untuk mengecoh para nyamuk. Setelah nyamuk lengah, maka dengan licah katak itu seketika menyaut nyamuk yang berterbangan di atas kepalanya.
Ku pandang sekeliling masih cukup gelap, namun awan telah menjingga. Dari kejauhan terdengar samar-samar lantunaan merdu ayat-ayat Alqur’an. Kulipat mukena putih bermotif bordir bunga-bunga. Warnanya putih bersih, karena sebulan sekali kurendam dengan larutan pemutih pakaian. Mukena berbahan katun ini pemberian kakak laki-lakiku taun lalu. Bukan kado ulang tahun ataupun hadiah atas kelulusanku, melainkan agar aku lebih rajin sholat, katanya. Sementari, kegelisahaanku masih menari-nari dalam otak.
Aku harus pulang hari ini juga, toh aku sedang libur semester jadi tidak ada alasan untukku menundanya lagi. Begitu hari mulai terang, akan segera kubeli sedikit oleh-oleh dan membereskan beberapa helai pakaianku untuk kubawa pulang. Pikirku.
***
Setelah kudapatkan selembar tiket kereta Gajayana jurusan Malang-Jakarta, Aku siap untuk menunggu kereta kelas eksekutif itu datang. Aku duduk di deretan bangku yang memanjang di depan loket. Di hadapannku berlalu-lalang pedagang kaki lima yang mengendong barang dagangannya. Menjajakan pada setiap  pengunjung stasiun yang dijumpainya. Tak berapa lamanya aku menunggu, pemberitahuan dari speaker diatas tempatku duduk berbunyi. Kereta datang.
“Gerbong nomor dua mbak” Seorang petugas berpakaian putih bersih menunjukan gerbongku sesuai petunjuk di tiketku. Petugas itu kemudian membantuku mengangkatkan kardus berisi oleh-oleh khas Malang dan ransel hitam sedang milikku.
“Pantas aja tiketnya mahal, dalamnya memang bagus” Gumamku.
 Aku berjalan disepanjang lorong gerbong. Mataku menelisik tajam mengamati deretan nomor yang tertera di samping atas bangku-bangku. Dan benar saja, pada baris keempat dari kursi paling depan kutemukan nomor kursi bertulis 2A. Sama persis dengan yang tercetak diselembar tiket ini. Aku meletakan ransel dan kardusku di tempat berbentuk persegi tepat diatas kepala seorang pria.                                          
“Permisi, boleh lewat mas?” Tanyaku pada pria itu. Mungkin usianya sekitar tiga puluhan. Ia duduk tepat bersebelahan dengan kursiku. Barangkali nomor kursinya 2B.
“Hem” Dehemnya memberi isyarat.
 Sekujur tubuhku merinding, bukan takut melainkan geli melihat lelaki seketus itu.
            Kusandarkan kepalaku di kursi yang tepat bersebelahan dengan laki-laki itu. Rasanya nyaman sekali setelah sebelumnya aku menunggu cukup lama. Ditambah lagi angkot yang berkode terminal tujuannya itu cukup membuatku merasa sesak. Bagamana tidak? Ketika bangku panjang yang saling berhadapan telah penuh diduduki. Sang sopir masih saja asyik menaikan penumpang yang berdiri di pinggir jalan. Maklumlah mereka kan harus kejar setoran.
Tak selang begitu lama seorang pria muda dan gadis belia mendekat ke kursi kami. Mata mereka berpindah dari deretan nomor kursi, kemudian ke kertas warna merah muda di tangannya. Mungkin kursi mereka bernomor 2C dan 2D. Benarsaja, tanpa memberi senyum basa-basi tubuh mereka langsung ambruk dikursi itu. Aaaah. Desahnya membuatku geli.
            Kini sebagian besar bangku telah memiliki penghuni. Rak tas diatas setiap bangku juga telah penuh oleh barang bawaan para penumpang. Dan pedagang kaki lima yang sejak tadi berlalu lalang di lorong gerbongpun sudah menghilang. Penumpang telah duduk dengan rapi mempersiapkan perjalan panjang yang baru akan dimulai. Sebagian besar dari mereka berasal dari Malang dan menuju kota-kota yang menjadi jalur kereta ini. Contohnya aku. Aku dari Malang hendak pulang ke kampung halamanku di bagian paling barat provinsi Jawa Tengah. Hanya beberapa saat kemudian, seorang petugas berseragam rapi  lengkap dengan topinya meniupkan peluit bersamaan dengan dikibas-kibaskannya bendera kecil di tangannya. Memberi kode pada lokomotif yang berada di kepala kereta. Tuuuuuut. Bunyi panjang kereta terdengar, pertanda bahwa kereta segera berangkat. Gesekan roda kereta dengan rel mendenging dengan keras. Kemudian getaranya terasa di sekujur tubuhku.
***
 “Bu, mana tiket dan KTPnya” Lagi-lagi petugas bertubuh gagah tegak dan berseragam menghampiriku.
“Ini pak”  Kusodorkan  kertas tiket beserta KTM biru milikku. Dicocokannya tiket dengan KTMku. Memastikan bahwa aku bukan penipu yang memalsukan identitas. Kemudian dilubangi selembar tiket itu dengan pelubang kertas dan menyodorkannya kembali kepadaku. Menganggukan kepala dan menyunggingkan senyum manis.
            Giliran pasangan muda-mudi yang duduk tepat dihadapanku. Mulanya kupikir mereka adalan saudara, namun ketika si gadis belia melendot dengan manja pada pundak si lelaki, aku jadi menyimpulkan kalau statusnya berpacaran. Kalau dugaanku tidak meleset si gadis masih SMA. Aaah, dasar anak jaman sekarang. Orang tua susah payah memeras keringat demi sekolahnya, namun dia malah bermesraan dan mengumbar rayuan murahan yang mengatasnamakan cinta. Tahu apa dia tentang cinta. Gak tahu malu.
“Ini mas” Petugas itu sudah selesai memeriksa dan mengembalikan lagi tiket mereka. Sedang lelaki cetus disampingku itu adalah yang pertama tiketnya diperiksa.
***
            Kereta telah melaju beberapa jam sejak meluncur dari stasiun tempatku membeli tiket sore tadi. Juga beberapa kali berhenti sejenak di stasiun-stasiun yang dilewatinya. Cacing-cacing di perutku seolah sedang berdemo, menuntut untuk diberi sedikit santapan. Kubuka tas plastik hitam kecil berisi beberapa lontong dan mendoan milikku.
Monggo mbak, Mas” Kusodorkan tas plastik itu pada laki-laki di sampingku juga pasangan di depanku itu. Hening. Tak ada jawaban. Kemudian karena sadar bahwa aku dengan lahap memakan bekalku, gadis itu menegakan kepala.
“ Mana rotinya tadi sayang?” Dengan gaya sok imut dan manja gadis itu bertanya pada kekasihnya.
            Kereta api kelas bisnis jurusan Malang-Jakarta ini telah membawaku menelusuri rel sepanjang ratusan kilometer. Bertemu dengan banyak jembatan besi yang menciptakan bunyi gesekan kereta dan rel semakin keras, layaknya cekingan kampret-kampret di malam hari. Laki-laki ketus yang duduk di sampingku telah turun sejak kereta ini sampai di stasiun Balapaan Solo. Sedang pasangan kekasih itu turun di stasiun Jogjakarta. Tak tau dari mana atau hendak kemana pasangan tersebut tapi bagiku sangat memuakan.
            Sebagian kursi penumpang telah kosong. Namun kursi-kursi yang kosong itu kembali terisi, ketika beberapa orang naik dari stasiun lain di jalur ini.
“Mbak sampeyan turun di mana toh?” seorang tukang sapu tiba-tiba membuatku terperanjat kaget.
“Saya turun di stasiun Banjar....” Jawabku.  Bingung akan kusebut apa lelaki itu. Mas, aku kira umurnya sudah diatas tigapuluhan. Dan kalau bapak, aku takut ia tersinggung, pasalnya belum tampak sebatangpun rambutnya yang memutih. Dari logat bicara sepertinya orang Solo.
***
            Aku tlah sampai distasiun terdekat dari rumahku. Entah bisa dibilang dekat atau justru jauh. Nyatanya stasiun ini berbeda provinsi dan membutuhkan dua jam perjalanan untuk bisa sampai ke rumah. Stasiun ini cukup besar, namun dindingnya yang bercat putih hampir penuh dengan coretan pilok berwarna-warni. Isinya tentang sumpah serapah dan kutukan kepada pemerintah yang tidak pecus mengurus negara, koruptor, bahkan kata-kata kotor yang sangat tidak layak dibaca. Kalau sudah seperti ini siapa yang mesti dipersalahkan? Orang-orang tidak bertanggung jawab yang mencoret-coretnya atau bahkan pemerintah yang tidak membuat peraturan yang tegas? Aaah ujung-ujungnya masyarakat sendiri yang rugi.
***
“Pak Wonorejo berapa” Tanyaku kepada gerombolan tukang ojek yang sedang bermain kartu di pangkalannya.
“Lima puluh mba” Sahut salah seorang sambil masih sibuk menata kartu di tangannya.
“ Kok mahal banget, Pak. Kurangi lah saya kan gak dari Jakarta”
“Duh Mbak, lima puluh dapat apa? Harga BBM semakin melambung tinggi, tukang ojek seperti kita ini yang menjerit” Bapak yang duduk di ujung menjawab.
Giliran bapak yang tertua ikut antusias
“Belum lagi kalau naikin tarif, diprotes sama penumpang. Katanya cari untung terlalu banyak, padahal cuma pas-pasan buat beli bensinnya.” Yang lain menambahi. Apa hubungannya denganku? Aku kan cuma mau ngojek kok malah jadi sasaran kekesalan para tukang ojek ini. Toh aku gak ada hubungannya sama kenaikan harga BBM. Batinku
“Iya benar, istri saya saja suka mengeluh,  harga kebutuhan semakin mahal tapi uang belanja semakin berkurang. Belum lagi biaya anak sekolah” Bapak yang duduk tepat di depanku tidak mau ketinggalan.
“ Kalau begitu empat lima ya, Pak” Aku coba memutus diskusi itu. Sejenak diam, para tukang ojek itu barang kali sedang berunding siapa yang akan mengatarku.
“Ayo mba empat lima” Salah satu dari mereka berdiri. Meletakan kartunya dan men-start motor Smash birunya. Mengantarku pulang.
***
“Mbakyumu pulang, Mes” Seru seorang anak kecil sambil berlari kearah gadis limabelasan. Gadis itu adalah adikku. Kulihat adikku sudah melebihi aku tingginya. Dua tahun terakhir ini aku memang tidak pulang ke kampung halaman.
            Aku baru saja tiba di depan gang kecil menuju rumahku. Di bibir gang beberapa ibu sedang duduk bergerombol. Tak jelas apa yang sedang dikerjakan. Barangkali sedang menggosipi tiap orang yang lewat di depan mereka. Sungguh hal yang tidak berguna. Gumamku dalam hati.
“War kamu baru pulang? Dengar-dengar kamu disana sekolah lagi ya?” Tanya seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman.
”Iya, Yu”.
“Sekolah apa disana, kamu kan udah lulus SMA” Nenek tua yang bertubuh gempal itu tiba-tiba menyela. Bola matanya melirik ke kiri-ke kanan seolah mengejek.
“ Aku kuliah, Ni” jawabku.
“ Alahh, kuliah juga nanti ujung-ujungnya masak di dapur, ngurus anak dan suami” celotehnya lagi. Aku diam saja. Membiarkan kata-kata itu mengalir begitu saja.
“Cucuku kerja di Jakarta, setiap bulan bisa ngirim ke mamaknya, sekarang malah yang mbiayai adiknya sekolah” Sambung nenek itu lagi. Aku hanya tersenyum kecut.
“Ya memang harusnya kayak gitu, Ni. Masih kecil disekolahin, udah gede gantian bantu orang tua. Bukananya nyusahin sampe tua” Dengan mata melirik ke arahku seorang ibu yang merupakan tetangga terdekat rumahku menambahi. Lirikannya seolah silet tajam yang mengiris ulu hati.
“War, si Erni teman sekolahmu udah punya anak loh. Kapan kamu kawin?” Tanya seorang ibu yang sedang menyuapi makan anaknya.
“Oh, soal itu naanti lah, Wa. Masih pingin meniti karir dulu” Jawabku
“Loh hati-hati jangan terlalu santai nanti gak kebagian kamu” Katanya lagi. Sejenak suasana sedikit mencair oleh tawa.
“Makanya, War, jangan terlalu pilih-pilih, nanti yang ada kamu kapiran, jadi perawan tua deh” Nenek gemuk itu kembali bersuara. Nadanya yang setengah mengejek memang selalu menaikan pitamku.
“War, War kamu dilamar si Diman yang udah pegawai negeri gak mau. Cari yang kayak apa lagi? Orang miskin kaya kita mah gak usah mimpi yang muluk-muluk” Tiba-tiba kalimat-kalimat itu keluar dari mulut salah seorang ibu dalam gerombolan tersebut. Seketika darahku naik hingga ke otak. Menyebar ke milyaran sel-sel tubuhku, Kemudian merangsangnya untuk mengirim respon ke sebagian inderaku.
 “Wah kurang kerjaan sekali sampeyan, sampai-sampai memperhatikan aku sebegitu detailnya” Bibirku seolah bergerak dengan sendirinya. Hawa panas yang mulai terasa di kulitpun seolah menambahi kekesalanku. Kalimat-kalimat yang baru saja kudengar layaknya duri yang terselip di dasar hati kemudian menusuk. Perih. Dengan senyum getir aku berjalan menjauh dari gerombolan itu. Kemudian bisik-bisik mulai terdengar bagai gemuruh petir di siang hari.
“Anaku sudah pulang” Seorang lelaki tua muncul dari balik pintu gubuk sederhana di hadapanku. Ya itulah surgaku.
“Bapak” Kurengkuh lelaki tua itu dengan kedua tanganku.Wajahnya redup namun tenang. Guratan-guratan keriput kini sudah terlihat semakin jelas di wajahnya, yang seolah menjadi bukti sejarah tentang perjuangan keras untuk hidup anak-anaknya. Sebagian besar rambut yang dulu hitam kini telah memutih. Kuciumi kedua pipi yang keriput itu. Kurasakan tetesan air suci menyirami hati yang gersang karena kerinduan.Aku selalu merindukanmu, Bapak.

                                                                                                Malang, 2 Januari 2014

Tuesday, November 7, 2017

Hadiah Terakhir Itu


Metropolitan, kota yang sarat akan mobil-mobil mewah dan gedung pencakar langit yang berdiri begitu megah. Di antara gedung yang berpuluh-puluh tingakat itu, orang-orang berpakaian rapi, berdasi lengkap dengan jas dan sepatu kulitnya. Ada ratusan kursi empuk yang ditata melingkar dan berjajar. Para anggota dewan itu beradu teriakan dengan suara yang jauh dari kesan elegan. Sibuk berdiskusi untuk menghasilkan sebuah kebijakan.
Di sudut kota, gubuk-gubuk kecil berjajar layaknya bukit sampah. Anak-anak setengah telanjang berlarian dengan riang di tepi sungai yang airnya menghitam oleh limbah. Bau busuk yang begitu menyengat tidak menyurutkan kebahagian yang terpancar dari wajah-wajah mereka. Wajah yang seolah tidak peduli pada sadisnya kehidupan. Mereka tidak pernah mengerti seberapa dalam mereka telah tenggelam dalam lautan kemelaratan.
***
Seorang anak laki-laki dengan kaos setengah lengan muncul dari balik bukit-bukit sampah yang berjajar di tepi jalan itu. Dengan kali telanjang, ia terus berlari. Seolah tidak  peduli pada kerikil-kerikil tajam yang sesekali melukai, pandangannya terus ke depan. Matanya memancarkan binar keyakinan. Itulah engkau. Lelaki  ingusan yang selalu yakin pada kebahagiaan masa mendatang. Dasar bodoh, kebahagiaan macam apa yang akan kau dapat kalau kau saja tak bisa mengenyam nikmat pendidikan?
 Sudah siap?” Tanyamu sembari merangkul pundakaku. Bau badanmu yang busuk terasa menusuk syaraf-syaraf indera pembauku. Barang kali sudah dua hari bajumu tidak dicuci. Dasar jorok, gummku dalam hati.
Tentu, hari ini kamu janji mau ngasih tahu tempat rahasia itu kan?” Jawabku dengan sedikit sebal. Bagaimana tidak, kau sudah membuatku menunggu lebih dari setengah jam lamanya.
Tanpa sempat menjawab, kau langsung menyaut tanganku. Menyeretku berlari dengan kecepatan tinggi. Dan bodohnya lagi, kau coba menyamakan langkahku dengan kecapatanmu berlari. Apa kau lupa kalau aku anak perempuan juga?
 “Cepetan!Serumu dengan sesekali kau menoleh ke arahku. Barangkali kau takut kalau aku akan tertinggal oleh ayunan kakimu yang seperti kancil itu.
Aku capek, istirahat dulu yuk”
Kau menghentikan ayunan kaki, berhenti di samping sebuah gedung pabrik tua. Gedung itu sudah lama tidak dipakai. Desas-desus yang beredar di masyarakat sekitar menyebutkan bahwa gedung ini cukup angker karena beberapa kali terjadi pembunuhan karyawannya. Meski berkali-kali mencoba diselidiki, tidak pernah diketahui motif dan pelakunya. Mati dengan tidak wajar, katanya.
 Bulu kudukku seakan hendak melompat dari pijakannya. Terasa  hawa dingin berhembus lewat lubang-lubang kecil di daun pintu yang sudah lapuk. Dan dengan kejailanmu, kau lebarkan lubang itu menggunakan kelingkingmu, mengintip untuk memastikan apa yang ada di dalam geduang tua itu.
Waaa! Teriakmu membuat tubuhku sontak terperanjat. Hampir saja aku mati kau buat. Ketipu.Kau menunjuk-nunjuk wajahku yang merah padam. Kita tertawa terbahak  sebelum akhirnya kembali beranjak.
             Setelah cukup panjang berjalan, akhirnya ayunan langkah mengantarkan kau dan aku di depan sebuah perempatan jalan. Jalan yang luasnya kurang lebih sama dengan luas rumah kita. Kendaraan bising berlalu-lalang di bawah terik yang terasa membakar kulit. Matahari terlihat sudah tepat di atas kepala.
            Kita duduk di sebuah bangku kecil di depan perempatan, menyaksikan roda mobil yang berputar layaknya gasing. Kau tunjuk-tunjuk tiap ban mobil yang hampir semua mereknya kau tahu. Kau memang berotak cerdas meski jarang sekali berkesempatan makan ikan.  ” Dunlop, Bridgeston, Falken, Yokohama...” Kau menyebutkannya satu-satu.
            Diseberang jalan, beberapa orang terlihat hendak menyeberang. Tepat di depan mereka berdiri, garis hitam putih tertata rapi. Traffic lights di sisi jalan perempatan berganti nyalanya. Hijau, kuning hingga kemudian merah.
            Semua kendaran sekejap berhenti di belakang garis hitam putih itu. Karena sedikit saja melanggar, dua bulan kurungan atau denda sejumlah uang siap sedia mengancam. Beberapa orang yang berdiri di seberang mulai berjalan. Dan tentu inilah saatnya kita beraksi.
Ini pegang” Katamu sambil kau keluarkan gelas bekas minuman dari dalam tas kumalmu. Tak lupa, kau keluarkan rincingan tutup sirup yang telah dipipihkan.
Aku yang nyanyi, kamu bagian yang narik” Katamu lagi. Aku hanya menganggukan kepalaku tanda menyetujui usulanmu.
            Kita mulai bergerak, kau memukulkan rincingan ketanganmu, bunyinya bergemerincing membentuk nada-nada dengan sempurna. Kau bernyanyi lagu khas anak jalanan. Nada dan suaramu menyatu sangat padu. Indah hingga membuat beberapa pengendara terhenyak mendengarmu. Tugasku mengacungkan gelas kepada para pengendara dengan sesekali aku ikut bernyanyi.
Hey ini.Seseorang memanggil dari dalam mobil sedan mewah. Laki-laki berkulit putih itu mengacungkan uang kertas sepuluh ribuan. Di kota ini memang banyak sekali orang-orang berkulit putih sepertinya. Bahkan mereka lah yang mendominasi perekonomian. Kalau seperti itu, mereka yang terlalu pintar atau kita yang terlalu pasif? Faktanya, kita seolah telah menjadi hamba di istana sendiri.
Terimakasih, Pak.Teriakku dengan gembira. Kaca mobil tertutup perlahan. Wajahnya menghilang di balik kaca hitam.
            Hanya berselang 27 menit, lampu kembali berubah nyala. Sesaat kuning kemudian merah. Kita berlari di antara barisan kendaraan roda dua dan empat yang perlahan mulai merayap. Kau menyeberang di depanku dengan sangat lincah, menyalip kendaraan-kendaraan itu. Sedang aku yang tak cukup pintar dalam urusan menyeberang, terjebak di tengah jalan. Kendaran mulai lancar berjalan membuatku semakin ketakutan.
Cepat lari!Teriakmu. Beberapa orang pengendara memandangiku dengan pandangan sinis. Mata-mata yang terpasang di wajah yang terlihat kusam karena terik mentari seolah menjadi jilatan lidah api yang perlahan membakar wajahku.
Aku nggak bisa.Jawabku seadanya. Aku semakin panik seiring volume kendaraan yang kian padat. Simpang-siur di depan dan belakangku, seolah tak ada sedikitpun celah untuk berlari kearahmu. Keringat dingin mengujur di dahiku, jatuh ke pipi, hidung dan bibirku.
Lari sekarang!” berkali-kali kau memberi komando, tapi aku masih terpaku. Seolah ada beban berton-ton beratnya yang membuatku tak punya cukup tenaga untuk dapat mengangkatnya.
            Dari kiri dan kananku kendaraan berlalu-lalang dengan kencangnya, suara klakson mulai beradu di telingaku. Seorang ibu pedagang nasi di seberang perempatan menjerit ngeri ke arahku. Namun tetap saja, tak ada yang dapat aku lakukan. Beban di kakiku terlalu berat untuk ku taklukan. Kemudian kau berlari meraih tanganku, menariku ke tepi jalan. Sebuah sepeda motor milik tukang pos yang melaju dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak kita. Motornya oleng dan sedikit menabrak trotoar jalan.
Brengsek, mau mati ya.Teriak lelaki berseragam orange itu.
Maaf, Pak” Katamu. Beberapa kendaraan berhenti dan merubung tukang pos itu.
            Kita yang takut kalau lelaki itu akan mengejar, lari terbirit-birit. Bersembunyi di balik bekas ruko orang-orang Tionghoa. Di teras-terasnya, beberapa gelandangan berbaring dengan alas koran bekas. Berjajar seperti ikan asin yang dijemur di pinggiran pantai. Sebagian berselimut dengan kain sarung yang sudah kumal, sebagian lagi hanya memakai pakaian compang-camping dan kaki telanjang, meringkuk. Beberapa tangan nampak bergerak mengusap wajah dan menggaruk badan. Sadar bahwa gelak tawa kita mengganggu tidur mereka, kusumpal mulutmu dengan telapak tanganku. Dan kau masih tertawa tertahan. Tubuhmu tampak bergetar-getar.
Ayo kita hitung saja uang kita” Katamu kemudian. Kau keluarkan bundalan uang dua ribuan yang diikat dengan karet dari tasmu. Lalu ku keluarkan juga gelas minuman dari dalam tasku.
Ini sudah pas” Katamu.
            Seorang anak kecil berjalan mendekat, denga kaki yang telanjang dan pakaian compang-camping yang bau. Rambutnya tampak gembel oleh debu. Barang kali sudah beberapa bulan rambutnya tidak dikeramas. Perlahan tangnnya yang mungil terulur ke depan wajahmu.
 “Ini, Dek. Beli makan ya” Katamu kemudian sembari menyodorkan seluruh keping receh milik kita.
Gimana kalau uangnya jadi kurang?” Aku sedikit geram melihat ekspresi wajahmu yang santai bak seorang malaikat. Kenapa pula kau malah memberikan semuanya, apa bedanya dia sama kita? Sama-sama gembel, batinku.
Pas, percaya saja, pasti uangnya pas” Kau coba meyakinkan. Aku masih menekuk mukaku. Lalu, kau menggelitik perutku, aku tertawa dan kaupun sama.
Kita berjalan lagi, tak berapa jauh kau berhenti.
 “Ini dia tempatnya!” katamu dengan ekspresi yang sumringah kau menunjuk sebuah toko burger. Aku tersenyum haru. Kau menepati janjimu.
Bu, pesan dua dibungkus ya.” Katamu. Setelah selesai membayar kita kembali ke samping ruko itu. Kita saling tertawa sebelum sejenak suasana menjadi riuh. Para gelandangan itu mulai bangun dengan tergesa-gesa.
Operasi-operasi” Teriaknya. Gelandangn itu berlari mondar-mandir, barangkali pikirannya belum sepenuhnya kembali setelah baru saja berlayar ke lautan mimpi. Lalu, suara jeritan anak kecil terdengan dari kejauhan. Dari arah jalan raya beberapa laki-laki berseragam hijau kusam dengan topi dan sepatunya berlari. Sebagian dari mereka berada di atas sebuah pickup yang hanya beratap terpal saja. Kau menarikku untuk bersembunyi.
Ini, kau sembunyi di kardus itu, cepat.” katamu sambil memberikan kantong plastik berisi burger itu. Aku masuk kedalam kardus bekas barang elektronik. Sedang kau, berlari ke belakang ruko-ruko.
Jangan lari, Brengsek!Salah satu lelaki itu berteriak dengan keras. Beberapa gelandangan terlihat sudah tertangakap dan dinaikan ke atas mobil bak terbuka itu. Pengemis kecil yang kau beri uang recehpun tak luput dari amukan petugas berseragam itu. Ia menangis, menggigit tangan petugas, tapi tangan yang kekar itu berhasil menamparnya.
            Suasana mulai tenang, tak ada lagi suara tangisan ataupun perlawanan di atas mobil petugas. Samar-samar terdengar di telingaku seretan sepatu yang berirama, seolah membentuk nada-nada lagu yang biasa kau nyanyikan bersamaku. Kian lama kian terasa mendekat dan suaranya semakin jelas masuk ke rongga dalam telingaku. Tubuhku mengigil, lidahku kaku, dan nadiku terasa membeku. Darahku tak dapat mengangkut oksigen ke seluruh tubuhku. Akibatnya, ribuan sel-selku mati. Aku pasti sudah mati. Pikirku.
Hey petugas dungu!Tiba-tiba suaramu membuatku terperanjat, seolah mengembalikan lagi nyawa yang telah melayang beberapa saat. Aku merasakan hidup kembali. Aku mengintip dari lubang kecil di dinding kardus, kulihat petugas itu berbalik arah, mencari sumber suara. Betapa bodohnya kau, kulihat kau berlari memasuki gang kecil yang berkerikil. Sekejap aku menyadari bahwa kau sengaja mengalihkan perhatiannya.
            Kau terus berlari di depan mata-mata yang telah lebam di atas mobil pick up itu. Tanpa kau sadari petugas lain menghadangmu, siap menangkapmu.  Naas, ayunan kakimu yang lincah itu tak selebar langkah kaki dua lelaki dewasa itu. Bajumu teraih oleh tangan salah seorang petugas. Kau meronta sekuat tenaga, menendang, menggigit tapi lagi-lagi kekuatanmu tak dapat menandingi lelaki itu. Kulihat kau dipukul, ditampar, terpental dan kau terkapar tak berdaya. Diseretnya tubuhmu yang cungkring itu ke atas mobil terbuka itu. Hatiku terasa perih, layaknya luka basah yang menganga dan disiram dengan air garam. Betapa menyakitkannya melihatmu pergi bahkan tanpa sedikitpun aku berusaha menahan. Aku merintih.
Perlahan mesin dibunyikan kemudian melaju secepat kilat. Kau pergi bersama senyuman tenang di atas mobil itu. Derunya kian menghilang bercampur bisingnya kota metropolitan. Sementara tubuhku masih mematung di dalam kardus besar ini. Kantong plastik berisi dua buah burger masih kugengam erat. Inilah hadian terakhir darimu, teman kecilku.




Saturday, November 4, 2017

Selepas Senja






“Ayo, Pak, ceritakan wayang yang semalam.” Rengek bocah laki-laki dengan mata penuh harap.
            Seperti biasa, digelarnya selembar karpet permadani tebal di lantai, tepat berhadapan dengan sebuah kursi yang ternyata telah berpenghuni. Seorang lelaki tua dengan rambut yang memutih tengah duduk di sana. Postur tubuh yang tegap dan gagah mencerminkan jiwanya yang tangguh. Sebatang cerutu tampak mengepul dari mulutnya, semakin gagah bak seorang jenderal VOC.
Tradisi cerutu di Indonesia memang pertama kali diperkenalkan penjajah dari Negeri Kincir Angin ini. Tak jelas, apa dan siapa pabrik cerutu pertama di Hindia Belanda. Namun, yang tertua dan masih bertahan hingga kini adalah Industri Bobbin PTPN X di Desa Jelbuk, Jember. Industri yang sekarang merupakan Badan Usaha Milik Negara ini menghasilkan tembakau yang sangat cocok untuk bahan pengikat maupun isi cerutu. Dan alhasil, cerutu yang diproduksinyapun memiliki kualitas yang tak kalah dari cerutu Kuba maupun Amerika.
“Ayo, Pak.” Kembali bocah itu coba membujuk lelaki tua yang tampak masih asyik menghisap aroma tembakaunya. Dihembuskannya asap dari mulut. Menyebar ke seluruh ruang. Harum.
“Memangnya kau sudah salat maghrib, Ngger?” Tanya lelaki tua itu akhirnya. Ngger atau Angger merupakan sebutan yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut anak laki-lakinya sebagai bentuk kasih sayang.
“Tentu saja sudah. Aku sengaja cepat-cepat biar bisa mendengar cerita Bapak.” Jawab bocah yang usianya baru genap sebelas tahun itu. Meskipun hampir menginjak masa remaja, postur tubuh yang mungil membuatnya terlibat layaknya berusia sembilan tahunan.
“Baiklah.” Diletakannya cerutu itu di atas meja. Bocah itu kemudian membenarkan posisi duduknya. Mendekat ke hadapan lelaki tua.
 “Cerita yang dibawakan pagelaran wayang semalam itu ‘Perang Baratayuda Jayabinangun’, Ngger.” Sambung lelaki tua memulai cerita.
“Perang saudara antara lima orang Pandawa dengan seratus orang Kurawa itu, Pak?” Tanya bocah itu penuh selidik. Binar matanya selalu memancarkan semangat yang luar biasa.
“Betul, Ngger. Perang saudara karena sengketa tanah Negara Astina.”
Beberapa saat hening. Bocah itu tampak menyerap apa yang baru saja didengar ke dalam otaknya. Sementara di luar, gerimis mulai turun yang rintiknya jatuh berirama. Satu, dua, tiga, hingga tak terhitung lagi.
“Perang itu terjadi di lapang Kuru Setra, Pendawa dipimpin oleh kakak tertuanya yaitu Puntadewa sementara Kurawa dipimpin Duryudana” Lanjut lelaki tua. Dihelanya napas panjang sebelum kembali menghisap cerutu yang sempat dicampakan beberapa saat.
“Gimana perang itu bisa terjadi, Pak? Bukannya sesama manusia harus saling mengasihi?” Bocah itu duduk melipat kaki dan menempelkan dagunya yang runcing di atas lutut. Wajahnya memang tampan dan darah keturunan Arab yang mengalir dalam tubuhnya tidak dapat disembunyikan sama sekali. Mata yang tajam dengan bulu mata yang lentik dan alis tebal terpasang sempurna di wajah orientalnya.
  Sebelum pertanyaan itu terjawab, sesosok wanita muncul dari tirai pintu ruang tengah. Ia membawakan secangkir kopi arabika yang diolahnya sendiri. Meskipun terbilang memiliki kandungan kafein yang relatif rendah, jenis kopi ini memiliki aroma yang harum dan rasa yang nikmat. Tidak heran kalau harga jualnyapun tinggi.
“Sebenanya perang itu bermula sejak orang tua mereka masih muda.” Kata lelaki tua setelah menyeruput kopi untuk yang pertama. “Pandu yang merupakan ayah dari Pandawa membawa tiga putri yaitu puteri Kunthi, Madrim dan Gendari. Salah satu dari mereka yaitu Gendari diberikan kepada kakanya yang buta yang bernama Dretarasta. Dengan terpaksa Gendari menikah dengan Drestarastra, tapi dalam hatinya sangat kesal karena memiliki suami yng buta. Lalu, Gendari bersumpah kalau anak-anaknya nanti yaitu 100 orang Kurawa akan selamanya bermusuhan dengan seluruh anak Pandu yaitu lima orang Pandawa. Begitulah awal mulanya, Ngger
Bocah itu mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Meskipun hasyat ingin tahunya belum seluruhnya terpenuhi, setidaknya ia sedikit puas dengan permulaan cerita lelaki tua. “Terus siapa yang menang dalam perang itu, Pak?” Selidiknya lagi.
“Nanti kuceritakan lagi. Ayo tunaikan kewajiban dulu” Jawabnya. Tanpa perlu dikomando dua kali, bocah itu lari ke arah kamar mandi. Lalu, lelaki tua mengikuti di belakangnya. Mengambil air wudu dan melaksanan empat rakaat salat isha.
Seusai melaksanakan salat isha, meraka tak bergegas kembali ke ruang depan, melainkan tetap tinggal di ruang sembahyang. Mereka duduk bersila dan saling berhadapan. Seolah lupa dengan sisa cerutu dan secangkir kopi yang baru dinikmati sesruput saja, lelaki tua kembali memulai ceritanya.
“Perang itu diawali dengan gugurnya Resi Seta, pemimpin perang Pandawa yang ditusuk dengan cundrik (keris kecil) pemberian Dewi Gangga oleh Resi Bisma. Ia adalah pemimpin perang pihak Kurawa. Hari itu kemenangn ada di pihk Kurawa.”
Suasana kembali hening. Nampak beberapa cicak tengah ber-meeting mengelilingi lampu LED Philip 40 Watt. Nyalanya yang jernih berpadu dengan tembok bercat putih bersih membuat ruangan terlihat sangat terang. Saking terangnya, semut merah di sudut ruangpun terihat dengan begitu jelas. Mereka berjalan dalam barisan yang sangat rapi. Ke atas, menembus plafon lewat lubang kecil. Barangkali mereka hendak mencari makan di luaran karena sang penghuni rumah tak membiarkan runtukan biskuit atau sebutir gula pasir sisa membuat kopi berserak di lantai.
 “Apa selanjutnya yang terjadi, Pak?” Tanya si bocah memecah keheningan.
Lelaki tua melihat sekeliling, kanan lalu kiri. Barangkali ia baru saja mengingat puntung cerutu yang ditinggalkannya di atas meja. Barangkali sudah habis seluruhnya menjadi abu. Atau mungkin saja ia sedang menyayangkan secangkir kopi yang pasti sudah dingin tadi.
“Perang masih terus berlanjut, Ngger.” Ia membenarkan peci, merapikan rambutnya yang sebagian besar telah memutih. “Keesokan harinya, saat Batara Surya menampakkan diri di ufuk timur, sangkala kembali ditiup. Itu tanda perang dimulai, Ngger. Sorak-sorai prajurit ramai sekali. Tombak menancap di tubuh prajurit yang gugur. Ratusan anak panah berhamburan di langit Kuta Setra bagi bintang jatuh. Mengkilat dan menyambar-nyambar.”
Bocah itu mendengarkan setiap kata yang diucapkan lelaki tua dengan seksama, tanpa celah sedikitpun. Matanya berbinar penuh dengan rasa keingintahuan. Kembali ia membenarkan posisi duduknya. “Siapa yang gugur hari itu, Pak?”
“Resi Bisma, pemimpin perang Kurawa yang dipanah oleh Srikandi”
“Srikandi itu wanita kan, Pak?
Sang lelaki tua kembali merapikan peci entah untuk keberapa kali. ”Benar, Ngger Srikandi adalah isterinya Arjuna. Ia atas perintah Prabu Kresna, memanah Resi Bisma menggunakan panah milik Arjuna.”
“Pasti keren sekali Srikandi saat itu ya, Pak?” Bocah itu tersenyum lebar. Sudut matanya menyempit beberapa derajad.
“Ceritanya sampai sini dulu, minggu depan akan bapak ceritakan lagi. Pergilan tidur.” Kata lelaki tua mengakhiri cerita akhirnya.
Bergegas bocah itu membereskan sajadah dan sarungnya. Meletakkannya di laci yang menempel di dinding. Namun sebelum sempat melangkahkan kali ke luar ruangan, si bocah kembali mendekati lelaki tua. “Aku suka sekali dengan wayang, Pak. Tapi katanya kalau terlalu menyukai wayang itu bisa jadi orang musrik.” Tanyanya setengah berbisik. Matanya yang sudah sempat meredup kembali berbinar.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Guru agama di sekolahku, Pak”
Sang Bapak tak langsung menjawab. Ia tertawa setengah terbahak yang rupanya telah mengusik sekelompok cicak tadi. Barangkali mereka sedang menguping dengan pura-pura meeting.
“Ngger, kesenian wayang itu mahakarya yang luar biasa. Pertunjukan wayang bisa menggabungkan banyak kesenian. Seni sasta dari pupuh yang diucapkan sang dalang, seni musik dari alunan musik gamelannya, seni rupa dari bentuk wayang kulit yang unik dan khas budaya Indonesia. Selain itu, wayang juga punya pesan kehidupan yang baik.”
“Benarkah, Pak?” Si bocah menegakkan kepala penuh kekaguman.
“Dan hebatnya lagi, Wayang dari tanah Jawa ini sudah dikenal di luar negeri, Ngger. Contohnya di perancis, Inggris, Austria, Yunani, Jepang, Thailand, Singapura, Amerika, Bolivia dan masih banyak lagi. Jadi, kau patut bangga.”
            “Tapi di cerita wayang kan ada banyak dewa, Pak. Bukannya Tuhan itu satu?” Celetuk bocah itu memotong cerita.
            “Benar, Ngger. Untuk menjadi manusia yang baik kau harus senantiasa berfikir sebelum bertindak. Apakah dari tindakanmu itu membuat orang sedih, marah, atau justeru bahagia. Dan kau tahu kan harus bertindak seperti apa?”
            “Tahu, Pak. Kita harus bertindak yang baik, yang tidak menyakiti orang lain dan kalau bisa memberi manfaat untuk sesama”
            “Kau anak yang cerdas, Ngger. Sejatinya begitulah kita seharusnya. Sementara itu dulu sembari kau terus rajin belajar dan beribadah. Nanti kau akan semakin paham.” Kata lelaki tua sembari mengelur kepala anak lelakinya.
Jam dinding telah menunjukan pukul 22.00. Hujan di luarpun sudah kian deras tak terbendung lagi. Setiap malam dalam minggu ini, hujan memang selalu turun. Lihat saja hari ini, hujan sudah turun sejak selepas senja sore tadi yang seolah tak pernah bosan jatuh ke bumi.



Rini Pamuji