Tuesday, November 7, 2017

Hadiah Terakhir Itu


Metropolitan, kota yang sarat akan mobil-mobil mewah dan gedung pencakar langit yang berdiri begitu megah. Di antara gedung yang berpuluh-puluh tingakat itu, orang-orang berpakaian rapi, berdasi lengkap dengan jas dan sepatu kulitnya. Ada ratusan kursi empuk yang ditata melingkar dan berjajar. Para anggota dewan itu beradu teriakan dengan suara yang jauh dari kesan elegan. Sibuk berdiskusi untuk menghasilkan sebuah kebijakan.
Di sudut kota, gubuk-gubuk kecil berjajar layaknya bukit sampah. Anak-anak setengah telanjang berlarian dengan riang di tepi sungai yang airnya menghitam oleh limbah. Bau busuk yang begitu menyengat tidak menyurutkan kebahagian yang terpancar dari wajah-wajah mereka. Wajah yang seolah tidak peduli pada sadisnya kehidupan. Mereka tidak pernah mengerti seberapa dalam mereka telah tenggelam dalam lautan kemelaratan.
***
Seorang anak laki-laki dengan kaos setengah lengan muncul dari balik bukit-bukit sampah yang berjajar di tepi jalan itu. Dengan kali telanjang, ia terus berlari. Seolah tidak  peduli pada kerikil-kerikil tajam yang sesekali melukai, pandangannya terus ke depan. Matanya memancarkan binar keyakinan. Itulah engkau. Lelaki  ingusan yang selalu yakin pada kebahagiaan masa mendatang. Dasar bodoh, kebahagiaan macam apa yang akan kau dapat kalau kau saja tak bisa mengenyam nikmat pendidikan?
 Sudah siap?” Tanyamu sembari merangkul pundakaku. Bau badanmu yang busuk terasa menusuk syaraf-syaraf indera pembauku. Barang kali sudah dua hari bajumu tidak dicuci. Dasar jorok, gummku dalam hati.
Tentu, hari ini kamu janji mau ngasih tahu tempat rahasia itu kan?” Jawabku dengan sedikit sebal. Bagaimana tidak, kau sudah membuatku menunggu lebih dari setengah jam lamanya.
Tanpa sempat menjawab, kau langsung menyaut tanganku. Menyeretku berlari dengan kecepatan tinggi. Dan bodohnya lagi, kau coba menyamakan langkahku dengan kecapatanmu berlari. Apa kau lupa kalau aku anak perempuan juga?
 “Cepetan!Serumu dengan sesekali kau menoleh ke arahku. Barangkali kau takut kalau aku akan tertinggal oleh ayunan kakimu yang seperti kancil itu.
Aku capek, istirahat dulu yuk”
Kau menghentikan ayunan kaki, berhenti di samping sebuah gedung pabrik tua. Gedung itu sudah lama tidak dipakai. Desas-desus yang beredar di masyarakat sekitar menyebutkan bahwa gedung ini cukup angker karena beberapa kali terjadi pembunuhan karyawannya. Meski berkali-kali mencoba diselidiki, tidak pernah diketahui motif dan pelakunya. Mati dengan tidak wajar, katanya.
 Bulu kudukku seakan hendak melompat dari pijakannya. Terasa  hawa dingin berhembus lewat lubang-lubang kecil di daun pintu yang sudah lapuk. Dan dengan kejailanmu, kau lebarkan lubang itu menggunakan kelingkingmu, mengintip untuk memastikan apa yang ada di dalam geduang tua itu.
Waaa! Teriakmu membuat tubuhku sontak terperanjat. Hampir saja aku mati kau buat. Ketipu.Kau menunjuk-nunjuk wajahku yang merah padam. Kita tertawa terbahak  sebelum akhirnya kembali beranjak.
             Setelah cukup panjang berjalan, akhirnya ayunan langkah mengantarkan kau dan aku di depan sebuah perempatan jalan. Jalan yang luasnya kurang lebih sama dengan luas rumah kita. Kendaraan bising berlalu-lalang di bawah terik yang terasa membakar kulit. Matahari terlihat sudah tepat di atas kepala.
            Kita duduk di sebuah bangku kecil di depan perempatan, menyaksikan roda mobil yang berputar layaknya gasing. Kau tunjuk-tunjuk tiap ban mobil yang hampir semua mereknya kau tahu. Kau memang berotak cerdas meski jarang sekali berkesempatan makan ikan.  ” Dunlop, Bridgeston, Falken, Yokohama...” Kau menyebutkannya satu-satu.
            Diseberang jalan, beberapa orang terlihat hendak menyeberang. Tepat di depan mereka berdiri, garis hitam putih tertata rapi. Traffic lights di sisi jalan perempatan berganti nyalanya. Hijau, kuning hingga kemudian merah.
            Semua kendaran sekejap berhenti di belakang garis hitam putih itu. Karena sedikit saja melanggar, dua bulan kurungan atau denda sejumlah uang siap sedia mengancam. Beberapa orang yang berdiri di seberang mulai berjalan. Dan tentu inilah saatnya kita beraksi.
Ini pegang” Katamu sambil kau keluarkan gelas bekas minuman dari dalam tas kumalmu. Tak lupa, kau keluarkan rincingan tutup sirup yang telah dipipihkan.
Aku yang nyanyi, kamu bagian yang narik” Katamu lagi. Aku hanya menganggukan kepalaku tanda menyetujui usulanmu.
            Kita mulai bergerak, kau memukulkan rincingan ketanganmu, bunyinya bergemerincing membentuk nada-nada dengan sempurna. Kau bernyanyi lagu khas anak jalanan. Nada dan suaramu menyatu sangat padu. Indah hingga membuat beberapa pengendara terhenyak mendengarmu. Tugasku mengacungkan gelas kepada para pengendara dengan sesekali aku ikut bernyanyi.
Hey ini.Seseorang memanggil dari dalam mobil sedan mewah. Laki-laki berkulit putih itu mengacungkan uang kertas sepuluh ribuan. Di kota ini memang banyak sekali orang-orang berkulit putih sepertinya. Bahkan mereka lah yang mendominasi perekonomian. Kalau seperti itu, mereka yang terlalu pintar atau kita yang terlalu pasif? Faktanya, kita seolah telah menjadi hamba di istana sendiri.
Terimakasih, Pak.Teriakku dengan gembira. Kaca mobil tertutup perlahan. Wajahnya menghilang di balik kaca hitam.
            Hanya berselang 27 menit, lampu kembali berubah nyala. Sesaat kuning kemudian merah. Kita berlari di antara barisan kendaraan roda dua dan empat yang perlahan mulai merayap. Kau menyeberang di depanku dengan sangat lincah, menyalip kendaraan-kendaraan itu. Sedang aku yang tak cukup pintar dalam urusan menyeberang, terjebak di tengah jalan. Kendaran mulai lancar berjalan membuatku semakin ketakutan.
Cepat lari!Teriakmu. Beberapa orang pengendara memandangiku dengan pandangan sinis. Mata-mata yang terpasang di wajah yang terlihat kusam karena terik mentari seolah menjadi jilatan lidah api yang perlahan membakar wajahku.
Aku nggak bisa.Jawabku seadanya. Aku semakin panik seiring volume kendaraan yang kian padat. Simpang-siur di depan dan belakangku, seolah tak ada sedikitpun celah untuk berlari kearahmu. Keringat dingin mengujur di dahiku, jatuh ke pipi, hidung dan bibirku.
Lari sekarang!” berkali-kali kau memberi komando, tapi aku masih terpaku. Seolah ada beban berton-ton beratnya yang membuatku tak punya cukup tenaga untuk dapat mengangkatnya.
            Dari kiri dan kananku kendaraan berlalu-lalang dengan kencangnya, suara klakson mulai beradu di telingaku. Seorang ibu pedagang nasi di seberang perempatan menjerit ngeri ke arahku. Namun tetap saja, tak ada yang dapat aku lakukan. Beban di kakiku terlalu berat untuk ku taklukan. Kemudian kau berlari meraih tanganku, menariku ke tepi jalan. Sebuah sepeda motor milik tukang pos yang melaju dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak kita. Motornya oleng dan sedikit menabrak trotoar jalan.
Brengsek, mau mati ya.Teriak lelaki berseragam orange itu.
Maaf, Pak” Katamu. Beberapa kendaraan berhenti dan merubung tukang pos itu.
            Kita yang takut kalau lelaki itu akan mengejar, lari terbirit-birit. Bersembunyi di balik bekas ruko orang-orang Tionghoa. Di teras-terasnya, beberapa gelandangan berbaring dengan alas koran bekas. Berjajar seperti ikan asin yang dijemur di pinggiran pantai. Sebagian berselimut dengan kain sarung yang sudah kumal, sebagian lagi hanya memakai pakaian compang-camping dan kaki telanjang, meringkuk. Beberapa tangan nampak bergerak mengusap wajah dan menggaruk badan. Sadar bahwa gelak tawa kita mengganggu tidur mereka, kusumpal mulutmu dengan telapak tanganku. Dan kau masih tertawa tertahan. Tubuhmu tampak bergetar-getar.
Ayo kita hitung saja uang kita” Katamu kemudian. Kau keluarkan bundalan uang dua ribuan yang diikat dengan karet dari tasmu. Lalu ku keluarkan juga gelas minuman dari dalam tasku.
Ini sudah pas” Katamu.
            Seorang anak kecil berjalan mendekat, denga kaki yang telanjang dan pakaian compang-camping yang bau. Rambutnya tampak gembel oleh debu. Barang kali sudah beberapa bulan rambutnya tidak dikeramas. Perlahan tangnnya yang mungil terulur ke depan wajahmu.
 “Ini, Dek. Beli makan ya” Katamu kemudian sembari menyodorkan seluruh keping receh milik kita.
Gimana kalau uangnya jadi kurang?” Aku sedikit geram melihat ekspresi wajahmu yang santai bak seorang malaikat. Kenapa pula kau malah memberikan semuanya, apa bedanya dia sama kita? Sama-sama gembel, batinku.
Pas, percaya saja, pasti uangnya pas” Kau coba meyakinkan. Aku masih menekuk mukaku. Lalu, kau menggelitik perutku, aku tertawa dan kaupun sama.
Kita berjalan lagi, tak berapa jauh kau berhenti.
 “Ini dia tempatnya!” katamu dengan ekspresi yang sumringah kau menunjuk sebuah toko burger. Aku tersenyum haru. Kau menepati janjimu.
Bu, pesan dua dibungkus ya.” Katamu. Setelah selesai membayar kita kembali ke samping ruko itu. Kita saling tertawa sebelum sejenak suasana menjadi riuh. Para gelandangan itu mulai bangun dengan tergesa-gesa.
Operasi-operasi” Teriaknya. Gelandangn itu berlari mondar-mandir, barangkali pikirannya belum sepenuhnya kembali setelah baru saja berlayar ke lautan mimpi. Lalu, suara jeritan anak kecil terdengan dari kejauhan. Dari arah jalan raya beberapa laki-laki berseragam hijau kusam dengan topi dan sepatunya berlari. Sebagian dari mereka berada di atas sebuah pickup yang hanya beratap terpal saja. Kau menarikku untuk bersembunyi.
Ini, kau sembunyi di kardus itu, cepat.” katamu sambil memberikan kantong plastik berisi burger itu. Aku masuk kedalam kardus bekas barang elektronik. Sedang kau, berlari ke belakang ruko-ruko.
Jangan lari, Brengsek!Salah satu lelaki itu berteriak dengan keras. Beberapa gelandangan terlihat sudah tertangakap dan dinaikan ke atas mobil bak terbuka itu. Pengemis kecil yang kau beri uang recehpun tak luput dari amukan petugas berseragam itu. Ia menangis, menggigit tangan petugas, tapi tangan yang kekar itu berhasil menamparnya.
            Suasana mulai tenang, tak ada lagi suara tangisan ataupun perlawanan di atas mobil petugas. Samar-samar terdengar di telingaku seretan sepatu yang berirama, seolah membentuk nada-nada lagu yang biasa kau nyanyikan bersamaku. Kian lama kian terasa mendekat dan suaranya semakin jelas masuk ke rongga dalam telingaku. Tubuhku mengigil, lidahku kaku, dan nadiku terasa membeku. Darahku tak dapat mengangkut oksigen ke seluruh tubuhku. Akibatnya, ribuan sel-selku mati. Aku pasti sudah mati. Pikirku.
Hey petugas dungu!Tiba-tiba suaramu membuatku terperanjat, seolah mengembalikan lagi nyawa yang telah melayang beberapa saat. Aku merasakan hidup kembali. Aku mengintip dari lubang kecil di dinding kardus, kulihat petugas itu berbalik arah, mencari sumber suara. Betapa bodohnya kau, kulihat kau berlari memasuki gang kecil yang berkerikil. Sekejap aku menyadari bahwa kau sengaja mengalihkan perhatiannya.
            Kau terus berlari di depan mata-mata yang telah lebam di atas mobil pick up itu. Tanpa kau sadari petugas lain menghadangmu, siap menangkapmu.  Naas, ayunan kakimu yang lincah itu tak selebar langkah kaki dua lelaki dewasa itu. Bajumu teraih oleh tangan salah seorang petugas. Kau meronta sekuat tenaga, menendang, menggigit tapi lagi-lagi kekuatanmu tak dapat menandingi lelaki itu. Kulihat kau dipukul, ditampar, terpental dan kau terkapar tak berdaya. Diseretnya tubuhmu yang cungkring itu ke atas mobil terbuka itu. Hatiku terasa perih, layaknya luka basah yang menganga dan disiram dengan air garam. Betapa menyakitkannya melihatmu pergi bahkan tanpa sedikitpun aku berusaha menahan. Aku merintih.
Perlahan mesin dibunyikan kemudian melaju secepat kilat. Kau pergi bersama senyuman tenang di atas mobil itu. Derunya kian menghilang bercampur bisingnya kota metropolitan. Sementara tubuhku masih mematung di dalam kardus besar ini. Kantong plastik berisi dua buah burger masih kugengam erat. Inilah hadian terakhir darimu, teman kecilku.




Saturday, November 4, 2017

Selepas Senja






“Ayo, Pak, ceritakan wayang yang semalam.” Rengek bocah laki-laki dengan mata penuh harap.
            Seperti biasa, digelarnya selembar karpet permadani tebal di lantai, tepat berhadapan dengan sebuah kursi yang ternyata telah berpenghuni. Seorang lelaki tua dengan rambut yang memutih tengah duduk di sana. Postur tubuh yang tegap dan gagah mencerminkan jiwanya yang tangguh. Sebatang cerutu tampak mengepul dari mulutnya, semakin gagah bak seorang jenderal VOC.
Tradisi cerutu di Indonesia memang pertama kali diperkenalkan penjajah dari Negeri Kincir Angin ini. Tak jelas, apa dan siapa pabrik cerutu pertama di Hindia Belanda. Namun, yang tertua dan masih bertahan hingga kini adalah Industri Bobbin PTPN X di Desa Jelbuk, Jember. Industri yang sekarang merupakan Badan Usaha Milik Negara ini menghasilkan tembakau yang sangat cocok untuk bahan pengikat maupun isi cerutu. Dan alhasil, cerutu yang diproduksinyapun memiliki kualitas yang tak kalah dari cerutu Kuba maupun Amerika.
“Ayo, Pak.” Kembali bocah itu coba membujuk lelaki tua yang tampak masih asyik menghisap aroma tembakaunya. Dihembuskannya asap dari mulut. Menyebar ke seluruh ruang. Harum.
“Memangnya kau sudah salat maghrib, Ngger?” Tanya lelaki tua itu akhirnya. Ngger atau Angger merupakan sebutan yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut anak laki-lakinya sebagai bentuk kasih sayang.
“Tentu saja sudah. Aku sengaja cepat-cepat biar bisa mendengar cerita Bapak.” Jawab bocah yang usianya baru genap sebelas tahun itu. Meskipun hampir menginjak masa remaja, postur tubuh yang mungil membuatnya terlibat layaknya berusia sembilan tahunan.
“Baiklah.” Diletakannya cerutu itu di atas meja. Bocah itu kemudian membenarkan posisi duduknya. Mendekat ke hadapan lelaki tua.
 “Cerita yang dibawakan pagelaran wayang semalam itu ‘Perang Baratayuda Jayabinangun’, Ngger.” Sambung lelaki tua memulai cerita.
“Perang saudara antara lima orang Pandawa dengan seratus orang Kurawa itu, Pak?” Tanya bocah itu penuh selidik. Binar matanya selalu memancarkan semangat yang luar biasa.
“Betul, Ngger. Perang saudara karena sengketa tanah Negara Astina.”
Beberapa saat hening. Bocah itu tampak menyerap apa yang baru saja didengar ke dalam otaknya. Sementara di luar, gerimis mulai turun yang rintiknya jatuh berirama. Satu, dua, tiga, hingga tak terhitung lagi.
“Perang itu terjadi di lapang Kuru Setra, Pendawa dipimpin oleh kakak tertuanya yaitu Puntadewa sementara Kurawa dipimpin Duryudana” Lanjut lelaki tua. Dihelanya napas panjang sebelum kembali menghisap cerutu yang sempat dicampakan beberapa saat.
“Gimana perang itu bisa terjadi, Pak? Bukannya sesama manusia harus saling mengasihi?” Bocah itu duduk melipat kaki dan menempelkan dagunya yang runcing di atas lutut. Wajahnya memang tampan dan darah keturunan Arab yang mengalir dalam tubuhnya tidak dapat disembunyikan sama sekali. Mata yang tajam dengan bulu mata yang lentik dan alis tebal terpasang sempurna di wajah orientalnya.
  Sebelum pertanyaan itu terjawab, sesosok wanita muncul dari tirai pintu ruang tengah. Ia membawakan secangkir kopi arabika yang diolahnya sendiri. Meskipun terbilang memiliki kandungan kafein yang relatif rendah, jenis kopi ini memiliki aroma yang harum dan rasa yang nikmat. Tidak heran kalau harga jualnyapun tinggi.
“Sebenanya perang itu bermula sejak orang tua mereka masih muda.” Kata lelaki tua setelah menyeruput kopi untuk yang pertama. “Pandu yang merupakan ayah dari Pandawa membawa tiga putri yaitu puteri Kunthi, Madrim dan Gendari. Salah satu dari mereka yaitu Gendari diberikan kepada kakanya yang buta yang bernama Dretarasta. Dengan terpaksa Gendari menikah dengan Drestarastra, tapi dalam hatinya sangat kesal karena memiliki suami yng buta. Lalu, Gendari bersumpah kalau anak-anaknya nanti yaitu 100 orang Kurawa akan selamanya bermusuhan dengan seluruh anak Pandu yaitu lima orang Pandawa. Begitulah awal mulanya, Ngger
Bocah itu mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Meskipun hasyat ingin tahunya belum seluruhnya terpenuhi, setidaknya ia sedikit puas dengan permulaan cerita lelaki tua. “Terus siapa yang menang dalam perang itu, Pak?” Selidiknya lagi.
“Nanti kuceritakan lagi. Ayo tunaikan kewajiban dulu” Jawabnya. Tanpa perlu dikomando dua kali, bocah itu lari ke arah kamar mandi. Lalu, lelaki tua mengikuti di belakangnya. Mengambil air wudu dan melaksanan empat rakaat salat isha.
Seusai melaksanakan salat isha, meraka tak bergegas kembali ke ruang depan, melainkan tetap tinggal di ruang sembahyang. Mereka duduk bersila dan saling berhadapan. Seolah lupa dengan sisa cerutu dan secangkir kopi yang baru dinikmati sesruput saja, lelaki tua kembali memulai ceritanya.
“Perang itu diawali dengan gugurnya Resi Seta, pemimpin perang Pandawa yang ditusuk dengan cundrik (keris kecil) pemberian Dewi Gangga oleh Resi Bisma. Ia adalah pemimpin perang pihak Kurawa. Hari itu kemenangn ada di pihk Kurawa.”
Suasana kembali hening. Nampak beberapa cicak tengah ber-meeting mengelilingi lampu LED Philip 40 Watt. Nyalanya yang jernih berpadu dengan tembok bercat putih bersih membuat ruangan terlihat sangat terang. Saking terangnya, semut merah di sudut ruangpun terihat dengan begitu jelas. Mereka berjalan dalam barisan yang sangat rapi. Ke atas, menembus plafon lewat lubang kecil. Barangkali mereka hendak mencari makan di luaran karena sang penghuni rumah tak membiarkan runtukan biskuit atau sebutir gula pasir sisa membuat kopi berserak di lantai.
 “Apa selanjutnya yang terjadi, Pak?” Tanya si bocah memecah keheningan.
Lelaki tua melihat sekeliling, kanan lalu kiri. Barangkali ia baru saja mengingat puntung cerutu yang ditinggalkannya di atas meja. Barangkali sudah habis seluruhnya menjadi abu. Atau mungkin saja ia sedang menyayangkan secangkir kopi yang pasti sudah dingin tadi.
“Perang masih terus berlanjut, Ngger.” Ia membenarkan peci, merapikan rambutnya yang sebagian besar telah memutih. “Keesokan harinya, saat Batara Surya menampakkan diri di ufuk timur, sangkala kembali ditiup. Itu tanda perang dimulai, Ngger. Sorak-sorai prajurit ramai sekali. Tombak menancap di tubuh prajurit yang gugur. Ratusan anak panah berhamburan di langit Kuta Setra bagi bintang jatuh. Mengkilat dan menyambar-nyambar.”
Bocah itu mendengarkan setiap kata yang diucapkan lelaki tua dengan seksama, tanpa celah sedikitpun. Matanya berbinar penuh dengan rasa keingintahuan. Kembali ia membenarkan posisi duduknya. “Siapa yang gugur hari itu, Pak?”
“Resi Bisma, pemimpin perang Kurawa yang dipanah oleh Srikandi”
“Srikandi itu wanita kan, Pak?
Sang lelaki tua kembali merapikan peci entah untuk keberapa kali. ”Benar, Ngger Srikandi adalah isterinya Arjuna. Ia atas perintah Prabu Kresna, memanah Resi Bisma menggunakan panah milik Arjuna.”
“Pasti keren sekali Srikandi saat itu ya, Pak?” Bocah itu tersenyum lebar. Sudut matanya menyempit beberapa derajad.
“Ceritanya sampai sini dulu, minggu depan akan bapak ceritakan lagi. Pergilan tidur.” Kata lelaki tua mengakhiri cerita akhirnya.
Bergegas bocah itu membereskan sajadah dan sarungnya. Meletakkannya di laci yang menempel di dinding. Namun sebelum sempat melangkahkan kali ke luar ruangan, si bocah kembali mendekati lelaki tua. “Aku suka sekali dengan wayang, Pak. Tapi katanya kalau terlalu menyukai wayang itu bisa jadi orang musrik.” Tanyanya setengah berbisik. Matanya yang sudah sempat meredup kembali berbinar.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Guru agama di sekolahku, Pak”
Sang Bapak tak langsung menjawab. Ia tertawa setengah terbahak yang rupanya telah mengusik sekelompok cicak tadi. Barangkali mereka sedang menguping dengan pura-pura meeting.
“Ngger, kesenian wayang itu mahakarya yang luar biasa. Pertunjukan wayang bisa menggabungkan banyak kesenian. Seni sasta dari pupuh yang diucapkan sang dalang, seni musik dari alunan musik gamelannya, seni rupa dari bentuk wayang kulit yang unik dan khas budaya Indonesia. Selain itu, wayang juga punya pesan kehidupan yang baik.”
“Benarkah, Pak?” Si bocah menegakkan kepala penuh kekaguman.
“Dan hebatnya lagi, Wayang dari tanah Jawa ini sudah dikenal di luar negeri, Ngger. Contohnya di perancis, Inggris, Austria, Yunani, Jepang, Thailand, Singapura, Amerika, Bolivia dan masih banyak lagi. Jadi, kau patut bangga.”
            “Tapi di cerita wayang kan ada banyak dewa, Pak. Bukannya Tuhan itu satu?” Celetuk bocah itu memotong cerita.
            “Benar, Ngger. Untuk menjadi manusia yang baik kau harus senantiasa berfikir sebelum bertindak. Apakah dari tindakanmu itu membuat orang sedih, marah, atau justeru bahagia. Dan kau tahu kan harus bertindak seperti apa?”
            “Tahu, Pak. Kita harus bertindak yang baik, yang tidak menyakiti orang lain dan kalau bisa memberi manfaat untuk sesama”
            “Kau anak yang cerdas, Ngger. Sejatinya begitulah kita seharusnya. Sementara itu dulu sembari kau terus rajin belajar dan beribadah. Nanti kau akan semakin paham.” Kata lelaki tua sembari mengelur kepala anak lelakinya.
Jam dinding telah menunjukan pukul 22.00. Hujan di luarpun sudah kian deras tak terbendung lagi. Setiap malam dalam minggu ini, hujan memang selalu turun. Lihat saja hari ini, hujan sudah turun sejak selepas senja sore tadi yang seolah tak pernah bosan jatuh ke bumi.



Rini Pamuji






Friday, October 13, 2017

Short Story- Salah paham



Salah Paham

Mugiharjo. Sebuah nama desa kecil di Kabupaten paling barat provinsi Jawa Tengah. Sesuai dengan namnya yang berarti semoga makmur dalam bahasa Sansekerta, penduduk desa ini hidup penuh pengaharapan akan sebuah kemakmuran. Damai dan Asri. Pohon-pohon yang rindang berjajar di sepanjang jalan. Kleang atau daun-daun kering, jatuh dan berserakan di bawahnya. Udara yang sejuk di siang hari membuat orang yang datang merasa nyaman untuk tinggal. Ketika malam datan, jalanan gelap gulita karena lampu penerangan jalan yang memang masih sangat jarang. Dan setiap tanggal 15 pada penanggalan Jawa, bulan purnama terang benderang bersinar. Bentuknya yang bulat indah membuat anak-anak desa tertarik untuk bermain di tanah lapang, Memainkan petak umpet bersama kawan sebaya. Bersembunyi di balik pohon kelapa yang berjajar rapi layaknya pasukan pengibar bendera ketika upacara kemerdekaan.
            Di ujung desa, hamparan sawah luas membentang. Menyapa kornea yang bayangannya jatuh tepat di retina setiap mata yang memandang. Yang ketika musim bertanam tiba, para wanita desa berbondong-bondong mendatangi lautan lumpur dengan sedikit air di permukaannya. Lautan itu berkilau bak permata yang basah bermandikan cahaya. Mereka menancapkan beberapa batang bibit padi yang telah dipotong ujung daunnya. Para wanita itu memakai caping dari anyaman bambu yang hanya cukup melindungi wajah dari terik yang terasa membakar kulit. Bercengkrama dengan lumbur yang berbau rumput busuk.
***
            Waktu yang dinanti setiap warga khususnya para petani desa telah tiba. Hamparan hijau nan elok telah menguning. Burung meliwis yang stiap sore hari berjajar di pematang sawah telah enyah berganti burung emprit yang beterbangan di atas hamparan padi yang menguning indah.  Burung yang bercicit dengan ceria itu adalah musuh bagi setiap petani. Karena apabila dibiarkan, mereka akan memakan dan merusak tanaman padi. Alhasil, berkilo-kilo bulir padi berkurang tiap harinya.
            Pada hari-hari seperti ini, warga akan menajamkan indra penglihatan serta pendengaran apabila ada yang berseru dengan riang. Mbawoon. Istilah yang digunakan warga setempat untuk menandai bahwa sepetak tanaman padi hendak dipanen. Seketika orang-orang akan berlari  membawa celurit kecilnya untuk mengarit. Tidak heran di pinggir-pinggir sawah yang daun padinya menguning bergerombol orang  menungguinya. Mereka dengan sabar menunggu komando dari sang pemilik sawah.
            Pak Sarmin adalah salah satu dari sekian banyak orang di gerombolan itu. Pada siang hari, ia akan membawa bungkusan nasi dari daun pisang yang sudah dilayukan di atas api.  Yang menimbulkan wangi pada nasi yang hangat. Dan pada saat malam,  ia memakai pakaian tebal agar hawa dingin tidak  menggerogoti paru-parunya. Meski tak lagi berdarah muda, tangannya yang kekar  masih sanggup mengangkat sekarung gabah.
***
            Malam ini ia bersama keempat kawannya bersepakat untuk njanggoli atau menunggui sawah pak Marto. Umur tananman padinya sudah kurang lebih 120 hari sejak bibit itu ditancapkan. Itu artinya dalam waktu dekat padi akan dipanen.  Ia  ingin sekali bisa mendapatkan  padi varietas Ciherang itu untuk dijadikan benih bakal tanam musim hujan nanti. Bukan hanya terbilang genjah karena berumur 125 hari saj, varietas ini juga memiliki tekstur nasi yang pulen.
 Pak Sarmin tidur di bawah pohon mangga yang tumbuh satu-satunya di tengan sawah. Pohon yang tumbuh dengan dedaunan yang lebat itu bagai surga bagi setiap orang. Karena pada siang hari saat matahari terik, orang akan berlindung di bawahnya. Dan ketika malam tiba, mereka bisa dengan leluasa berteduh dari silaunya purnama.
            Keempat kawannya telah tertidur nyenyak di atas tikar pandannya masing-masing. Suara dengkuran para lelaki dewasa itu beradu.  Sementara itu, pak Sarmin masih tetap terjaga karena hawa dingin yang seolah menusuk tulang-tulangnya. Ia menggulungkan tubuhnya di dalam tikar pandan, mencoba mencari setitik kehangatan. Perlahan, ia terlena, terayu oleh syahdu malam yang dingin itu.
Mbawon- mbawon” samar-samar terdengar suara dari kejauhan. Dibukanya kembali pelupuk mata yang baru beberapa detik menutup. Didengarkannya dengan teliti suara itu, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Lamat-lamat suara itu kian dekat. Dilihatnya rumpun padi bergerak-gerak dan suara irisan parang kecil dengan batang padi terdengar jelas di telinmganya.
Kang bangun ,, mbawon!Ia mengoyang-goyangkan tubuh keempat kawanya yang sedari tadi sudah terlelap. Satu persatu telah bangun, mengucek-ucek matanya, namun wajahnya lesu layaknya mayat yang baru saja terbangun kembali dari kuburnya.
Di mana kang?”
Sawah kang Marto.Kemudian zombi-zombi itu mengumpulkan nyawa untuk segera beraksi. Tanpa menunggu terlalu lama, ia dan kawan-kawannya  berlari ke area sawah pak Marto. Dengan terampil membabat rumpun-rumpun padi yang terasa berat karena butir gabah yang berlimpah. Setelah dibabad habis, giliran mengumpulkannya menjadi satu tumpukan besar untuk segera dirontokkan begitu hari sudah sedikit terang.
***
            Pak Marto baru saja tiba di depan sawahnya. Melihat tanaman padi yang diharapkannya sudah semakin tua namun hanya tinggal sisa babadan. Darahnya naik hingga ke ujung kepala. Ia kembali ke perkampungan dengan penuh amarah. Postur tubuhnya yang tinggi besar dengan lengan yang kokoh membuatnya terlihat lebih kuat dari orang yang seusianya.
Hey siapa yang berani-baraninya nyolong padiku!Teriaknya sambil berjalan di sepanjang jalan desa. Tak jelas pada siapa. Ia memandang setiap pintu rumah warga yang dilewatinya.
Keluar kau maling!Serunya lagi. Tak ada jawaban. Anak-anak yang ketakutan melihat tingkah pak Marto langsung lari masuk ke dalam rumah.
Kamu pikir bisa sembunyi? Lihat saja nanti kalau udah ketemu aku potong lehermu.Dengan melotot, lagi-lagi pak Marto berteriak di tengah jalan. Matanya yang lebar dan tajam serta berengos yang hampir memenuhi dagu hingga leher menambah kesan antagonis diwajahnya.
***
Oh jadi kamu dalangnya, Min?”  Tiba-tiba dengan nada tingginya pak Marto menegur pak Sarmin yang sedang duduk di bangku panjang berlengan. Ia terperanjat. Tak menyadari kedatangan pria bertubuh gempal itu.
Iya kang Marto, kang Sarmin ini yang pertama kali memberi tahu kami kalau padi kang Marto mau dipanen.Seorang lelaki yang merupakan kawan pak Sarmin itu memberi kesaksian.
Sabar dulu. Sebenarnya ada apa ini?Tanya pak Sarmin heran. Kening yang sudah tampak keriput itu mengerut hingga kedua alisnya hampir menyatu.
Jangan pura-pura kau, Maling. Sudah miskin tapi jadi maling, pantasan kere terus.
Mari kita duduk dulu, Kang. Siapa tahu cuma kesalahpahaman saja.
Alah kamu gak usah mengelak lagi. Semua saksi sudah ada kalau kamulah dalangnya.Kata pak Marto dengna penuh amarah.
Sungguh, Kang. Aku masih belum paham dengan tuduhan kang Marto.
Nggak usah pura-pura lagi, kamu maling gabahku.
Pak Sarmin hanya terdiam di posisi seperti sebelumnya, sedang istrinya yang tiba-tiba keluar dari balik tirai menangis terisak dengan  sesekali menyeka  air mata yang mengalir deras dipipinya.
Aku minta maaf, Kang. Tapi benar-benar aku tidak bermaksud jadi maling.
Kamu pikir dengan kata maaf saja sudah cukup mengganti kerugianku?”
“Tapi aku nggak nyuri, Kang.
Oh jadi kamu gak mau ngaku kalau kamu itu maling? Kurang ajar!!Tangan pak Marto hendak menyaut gagang golok di pinggangnya namun salah seorang laki-laki menahan tangnnya. Di halaman rumah pak Sarmin warga telah berkumpul seolah ingin menyaksikan pertunjukan sirkus gratis.
Ini bagaimana ceritanya?” Tanya pak RT yang  muncul dari kerumunan warga.
Ini pak, maling gabah saya dengan enaknya sekarang gak mau ngaku kalau dia maling.Pak Marto nyerocos dengan antusias.
Benar seperti itu, pak Sarmin?
Injih, tapi saya tidak sengaja jadi maling, Pak RT. Tadi malam benar-benar ada dua orang yang ngarit sebelum saya, dan saya hanya ikut saja.” Kata pak Sarmin gugup. Sekujur tubuhnya menggigil.
Sekarang kamu malah nyari kambing hitam ya atas kesalahanmu.Pak Marto menyela.
Jadi pak Sarmin tahu orangnya siapa?
Mboten, Pak. Saya tidak sempat menyapa kedua orang itu.Jawab pak Sarmin.
Penipu, kalau ada orang lain yang datang kenapa tumpukannya hanya ada lima?Pak Marto kembali tersulut amarah.
Beberapa saat, suasana hening. Lalu, lamat-lamat para warga saling pandang.
Benar  pak RT, tumpukannya cuma ada lima.Suara dari kerumunan warga di halaman tiba-tiba ikut nyelonong.
Jadi bagaimana, pak Sarmin?” tanya pak RT lagi. Pak Sarmin hanya diam seolah menahan perih yang teramat di dalam hatinya.
Maling kurang ajar!Nada bicara pak Marto kian tinggi tinggi. Rahangnya yang kokoh bersuara layaknya sedang memakan sesuatu yang asam. Matanya melotot dan tiba-tiba prakk. Golok panjang di pinggangnya melayang dan menancap di sudut meja yang terbuat dari kayu mahoni tua. Retak sedikit. Warga yang berkerumun itu terperanjat dan serentak hening menyaksikan adegan mengerikan di depan mereka.
 “Sudah usir saja, Pak. Desa Mugiharjo selalu damai kecuali ada maling-maling kotor seperti Sarmin ini.”
Sabar, pak Marto. Tidak sepantasnya kita berlaku demikian, ini negara hukum. Tidak boleh main hakim sendiri, selain itu pak Sarmin ini kan masih saudara sama bapak.Pak RT dengan bijak mencoba meluruskan perkara.
 “Maling itu gak mungkin maling saudaranya sendiri, Pak.
Pak Sarmin hanya diam tertunduk. Matanya tidak berkedip seolah tengah memperhatikan sesosok siluman di bawah sana. Ia bukan hanya merasa terdzolimi, tetapi merasa dipermalukan kakak kandungnya sendiri. Hatika hancur tanpa sisa.
 Seketika ia terkenang pada masa kanak-kanak. Ia adalah bungsu kebanggaan orang tua. Bukan hanya sikapnya yang santun dan suka membantu, prestasi yang diraih di Sekolah Rakyatnya juga kian membuat bangga. Berbeda dengan karakter Sarmin, Marto yang merupakan kakak pertamanya terbilang nakal. Selain suka tidur, ia juga beberapa kali ketahuan berkelahi. Bertolak dari sarmin kecil yang santun dan cermerlang, hidup berjalan bagai misteri. Ia hanya menjadi petani sederhana dengan seratus ubin sawah saat kakaknya menjadi tokek kaya raya di desanya.
***
Pak, kami yang salah pak.Tiba-tiba dua orang mncul dari kerumunan.
 “Memang kami yang salah tempat tadi malam, tapi karena kang Sarmin sudah terlanjur turun. Jadi kami memutuskan untuk pergi tanpa bilang apa-apa.Semua mata tertuju pada dua lelaki paruh baya itu.
Keparat!!!Pak Marto beranjak dari kursi panjang yang saling berhadapan. Mengeloyor  keluar lewat kerumunan warga dengan menahan malu. Sedang golok panjangnya dibiarkan begitu saja menancap di sudut meja.





TAMAT



Tuesday, November 22, 2016

Maintaining the Unity of Diversity



                        Unity of diversity recently has been becoming a hot issue in Indonesia. There are some parties discuss about it. Also, television channels show some programs and news  focusing on that kind of issue. To understand the unity of diversity, it is better to you thinking about gado-gado, the  Javanese salad.
 Gado-gado is a food made of many different materials such as vegetable, rice, egg, and peanut sauce.  Those are mixed and create a new taste, a unique taste. There are many either Indonesian or foreigners like it.  I think gado-gado is like Indonesia. And then the question is, why? What is exactly  the unity of diversity?
Indonesia consists of  various ethnics, religions, languages, cultures and races.  This variety is a kind of grace from the god since there are 1.128 ethnics with different culture living in Indonesia.  Also,  742 languages, 6 religions, and 4 races are in one country. They all have the same purpose and  feel the same feeling. They also live harmoniously . So, the unity of diversity is not just a philosophy of our national principle, Pancasila. It is something neutralizing every diversity.
Unity of diversity has very important role in our nation. If it is ignored, it can treat our nation. One of the examples is the 4 November demonstration case in Jakarta. As we know, this case began with a person insulting other people of different religions.
That is why the unity of diversity should be maintained. We as a students, the next generation for our country, can maintain it by doing these simple ways. First, students should respect the diversity. We have to realize that we have the same feeling, same purpose to live happily. no matter what . Second, we have to built the nationalism. when we love our country, we will love all about it. Last, we should communicate the problem. As we know communication is the best way of solving every problem. When we can communicate well, there will not be misunderstanding.